Cari

Serba Instan Tidak Membawa Kebahagiaan

Kau berhak atas, dan kau hanyalah dapat mengendalikan karyamu, perbuatanmu, apa yang kau lakukan; kau tidak dapat mengendalikan hasil dari karyamu, perbuatanmu. Sebab itu, janganlah menjadikan hasil sebagai tujuanmu berkarya; janganlah menjadikan hasil sebagai pendorong atau motivasi untuk berkarya, untuk berbuat sesuatu. Jangan pula berdiam diri dan tidak berkarya.” Bhagavad Gita 2:47


Bekerja, kita nggak bisa nggak bekerja. Duduk diam pun itu pekerjaan. Kerjanya adalah malas-malasan, bengong-bengongan. Setiap orang harus bekerja. Tetapi bekerja itu jangan memikirkan hasil melulu. Kalau memikirkan hasil melulu, energi kita akan bercabang.


Bayangkan Anda lagi masak, memikirkan terus, ini harus bagaimana, hasilnya harus bagaimana, masakannya pasti rusak. Entah kebakar, entah gosong, entah apa. Tapi masak dengan penuh kesadaran, dan tidak memikirkan terus menerus, ini seperti apa, gimana-gimana, maka masakannya akan baik, akan bagus.


Pekerjaan kita di kantor, keseharian hidup, kalau kita memikirkan tujuan terus menerus, energi kita bercabang. Sebagian energi untuk membuat, berbuat, sebagian energi untuk memikirkan tujuan. Tapi kalau kita menggunakan seluruh energi untuk perbuatan kita, berkarya, hasilnya sudah pasti bagus. Karena ada hukum alam, hukum karma, hukum sebab-akibat, hukum konsekuensi. Kalau kita berbuat yang terbaik, hasilnya pun akan terbaik. Jadi lebih bagus menggunakan seluruh energi pada perbuatan pada pekerjaan, bukan memikirkan hasil.



Berkaryalah dengan Kesadaran Jiwa, kemanunggalan diri dengan semesta, wahai Dhananjaya (Arjuna, Penakluk Kebendaan). Berkaryalah tanpa keterikatan pada hasil, tanpa memikirkan keberhasilan maupun kegagalan. Keseimbangan diri seperti itulah yang disebut Yoga.” Bhagavad Gita 2:48

Inilah Yoga. Yoga bukan Cuma latiahan-latihan. Latihan-latihan itu hanya untuk membuat kita bisa mempraktekkan keseimbangan diri. Yoga dalam keadaan sesungguhnya, dalam keadaan berhasil tidak berhasil, menang kalah, gagal atau apa, kita tetap berkarya dengan penuh semangat.


Lihat semut. Kadang-kadang kita lihat semut, dia mau naik jatuh, naik lagi, nggak pernah mengalah dia. Semangatnya tidak pernah mengendur. Belajarlah dari semut. Jangan sampai terkalahkan oleh semut. Belajar semangatnya dari semut.


Wahai Dhananjaya (Arjuna, Penakluk Kebendaan), sesungguhnya, berkarya tanpa Kesadaran Yoga, tanpa keseimbangan diri, tidak berarti banyak. Sebab itu, hiduplah dengan penuh kesadaran. Berlindunglah pada kesadaran diri. Sungguh sangat menyedihkan, adalah keadaan mereka yang berkarya tanpa kesadaran, tanpa keseimbangan diri, dan semata untuk meraih hasil cepat dari segala perbuatannya.” Bhagavad Gita 2:49

Kita semua sedang mengejar hasil cepat. Segala sesuatu harus instan. Kita semua hidup di zaman serba instan. Dan serba instan itu tidak akan membawakan suatu kebahagiaan.


Banyak makanan saya pelajari, semua makanan yang sudah diproses. Entah itu mie instan, entah itu masakan di-kaleng, apa pun masakan buah-buahan di-kaleng. Apa pun yang sudah diproses, itu akan membebani badan kita. Karena badan kita dibuat untuk food-processing. Anda pasti di rumah punya food-processing. Mesin-mesin untuk blender untuk ini itu. Sekarang ada mesin food-prosessing, apa pun bisa diproses. Padahal badan kita ini liver, ginjal semuanya ini dibuat untuk memroses makanan.


Nah kalau makanan sudah diproses oleh mesin di luar, masuk ke dalam mesin dalam tubuh kita tidak bekerja. Jadi makanan yang masuk itu, mungkin kita merasa kenyang, tapi nutrisinya vitaminnya mineralnya, semuanya tidak tersebar, karena tidak diproses. Dia langsung masuk ke lambung keluar sebagai ampas. Oleh karena itu sedapat mungkin, masakan Bali sudah bagus sebetulnya, nggak terlalu over-cook, Cuma satu hal yang kurang dalam masakan Bali, ini penting sekli. Perut kita ini tidak dibuat untuk memproses masakan yang sudah dingin. Saya melihat banyak orang Bali, punya kebiasaan makan makanan yang sudah dingin. Harus panas, nasi harus panas, lauk kalau sudah masak harus dipanaskan lagi, sebelum disuguhkan untuk dimakan.


Karena tubuh kita khususnya perut dan zat asam ini, tidak akan terpicu kalau masakan dingin. Malah zat asamnya tidak bekerja. Kemudia kita kena sakit lambung dan sebagainya. Jadi sedapat mungkin, makan masakan yang panas. Di Bali saya lihat tidak ada kebiasaan makan sup. Harus ada sup sedikit harus ada kuah sedikit. Jangan semuanya kering-kering. Dan makanan apa pun, masakan Bali sudah bagus, tetapi sebelum disuguhkan, dipanaskan.


Semuanya ini adalah bagian dari Yoga. Semuanya ini adalah bagian dari spiritualitas. Kita mengurusi semuanya.


Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari Hari Percakapan 02:42-49 Kitab Suci Adalah Peta Jalan Menuju Kesucian


16 tampilan0 komentar

Postingan Terkait