Cari

Rasa Iri Menurunkan Frekuensi Kesadaran Diri



Bila kita paham kehidupan masa kini ada kaitannya dengan kehidupan lalu, maka mungkin saja walau kita kuliah pada waktu yang sama, nilainya sama-sama cumlaude, akan tetapi keberuntungan berbeda. Perbuatan di masa lalu kita tidak sama. Bila sudah demikian untuk apa iri terhadap orang lain?


Orang yang Iri Hati Tidak pernah Sukses

Seorang yang selalu berkeluh kesah atau menaruh rasa iri terhadap keberhasilan orang lain tidak pernah sukses. Dunia ini tidak kekurangan sesuatu apa pun jua. Segala apa yang diinginkan ada di sini. Kekayaan yang berlimpah, kesehatan, kebahagiaan, semuanya ada. Orang yang berkeluh-kesah sungguh memiliki sikap pesimistis. Dan, seorang pesimistis tidak pernah dicintai, tidak pernah dihargai. Siapa yang mau bersahabat dengan orang seperti itu? Siapa yang man membantu orang seperti itu? Seorang pesimistis sungguh menjijikkan. Dan, dunia tidak membutuhkan orang-orang yang menjijikkan. Pesimis meracuni hidupnya dengan pesimisme. la menolak segala berkah dari alam. la menyengsarakan dirinya.

Para dewa atau malaikat selalu membantu mereka yang optimistis; mereka yang penuh dinamisme; mereka yang cerah dan ceria; mereka yang menghendaki kebaikan. Sementara itu, orang-orang yang pesimistis dan malas, yang hanya bisa berkeluh kesah, dikerumuni oleh kekuatan-kekuatan rendah dan merendahkan. Kekuatan-kekuatan inilah yang menjauhkan mereka dari segala kebaikan di dalam dunia yang baik ini.


Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva(The Blissful Prophet), Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat #SpiritualAstrologi


Para Malaikat / Dewa Membantu Orang yang Satu Frekuensi dengan Mereka

Alam ini penuh dengan makhluk-makhluk halus, roh-roh yang senantiasa siap sedia untuk membantu para pemberani. Mereka tegas, penuh semangat, dan berkarya dengan kesungguhan hati. Kita tidak bisa menjelaskan cara kerja mereka. Setidaknya cara kerja mereka tidak bisa dibahas dalam buku ini. Barangkali membutuhkan buku lain. Tapi, sesungguhnya tidak perlu mengetahui cara mereka bekerja. Kita tahu cara kerja mereka atau tidak, mereka tetaplah bekerja dan membantu kita.

Mereka adalah jiwa-jiwa agung, mulia, dan jauh berada di atas kita. Mau menyebutnya malaikat, silakan. Mau menyebutnya dewa, silakan. Mereka sudah bebas dari dualitas suka/tak-suka. Mereka membantu siapa saja yang berada pada “frekuensi” yang sama, gelombang yang sama dengan mereka.


Adapun untuk berada pada gelombang itu, kita mesti bebas dari rasa dengki, iri, amarah, dan lain sebagainya. Kita mesti mampu mengendalikan hawa-nafsu dan tidak terkendali olehnya. Luapan emosi yang tidak terkendali, khususnya luapan emosi amarah, menurunkan frekuensi kita sehingga kita tidak lagi bergetar bersama mereka. Oleh sebab itu, kita mesti sangat berhati-hati dan tidak terbawa oleh emosi.



Iri Hati adalah Tanda Kita Dikuasai Ego

Padahal Yang Ada Hanya Tuhan (Sang Penari) sedangkan Alam Semesta termasuk Kita adalah tarian-Nya.

Tuhan sering disebut sebagai Nataraja – Raja para Penari, Sang Penari Teragung, Sang Penari. Tuhan juga adalah Leeladhari, Sang Pemain Teragung. Dan seluruh dunia ciptaannya adalah Leela, ‘permainan’ Tuhan.

Tarian apa pun tidak dapat dipisahkan dari sang penari. Tarian ada karena ada penari. Tidak ada tarian tanpa sang penari, karena hal itu sangatlah mustahil. Tarian berhubungan dengan sang penari seperti sinar mentari dan sang matahari. Tak akan ada sinar mentari tanpa sang matahari. Tak ada cahaya rembulan tanpa sang bulan.


Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2009). “The Gospel Of Michael Jackson”. Anand Krishna Global Co-operation)



Iri kepada Orang Lain Melecehkan Gusti

“Terkendali oleh keangkuhan, kekerasan, kesombongan, nafsu, amarah dan sebagainya, mereka sesungguhnya melecehkan Aku yang bersemayam dalam diri mereka dan diri setiap orang.” Bhagavad Gita 16:18

Pelecehan terjadi, karena kita menaruh rasa iri terhadap orang lain, cemburu, atau menganggapnya lebih rendah. Semua ini muncul dari delusi bahwasanya “lain”-nya seseorang adalah sebuah realita.

Padahal yang “lain” itu tidak ada – Sang Jiwa Agung, lewat percikan-percikan yang tak pernah terpisahkan dari-Nya sedang menerangi setiap makhluk. Sinar suci yang sama menerangi setiap orang.

Di tingkat wahana-badan, memang banyak jenis, beragarn kendaraan. Sepintas, pengemudi setiap kendaraan pun tampak beda. Keturunan Cina jelas beda dari keturunan Afrika. Orang Asia tidak memiliki warna kulit yang sama seperti orang Eropa. Namun, aliran kehidupan, listrik Ilahi yang menghidupi setiap pengemudi adalah satu dan sama.


Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia



13 tampilan0 komentar

Postingan Terkait