Cari

Berkaryalah dengan Semangat Panembahan!

"Karma Yoga -- Berkarya seefisien mungkin, dengan sepenuh hati, tapi tanpa keterikatan -- tidak memikirkan hasil akhir. Sehingga seluruh fokus kita pada pekerjaan di tangan, didepan mata -- dan tidak bercabang untuk memikirkan segala sesuatu di luar kendali. Berkarya dengan semangat pelayanan, kerelawanan, dan panembahan, demi tujuan yang mulia. Bukan demi kepentingan diri atau kepentingan kelompok saja." (Dikutip dari buku Karma Yoga bagi Orang Modern, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru - Anand Krishna)


Informasi dan Pembelian:

Jakarta 0878 8511 1979

Bali 0818350712

Jawa 0878 3161 5414

https://www.yogameditasi.com/shop

https://www.booksindonesia.com/



Pandangan Buku Karma Yoga Menurut Bung Karno

Dalam buku Karma Yoga bagi Orang Modern, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2011 disampaikan bahwa Bung Karno (1901-1970) berkata:

“Kami berusaha membangun suatu dunia yang sehat dan aman. Kami berusaha membangun suatu dunia, di mana setiap orang dapat hidup dalam suasana damai. Kami berusaha membangun suatu dunia, di mana terdapat keadilan dan kemakmuran untuk semua orang. Kami berusaha membangun suatu dunia di mana kemanusiaan dapat mencapai kejayaannya yang penuh.”

Pernyataan Bung Karno tentang dunia yang sehat, aman, damai, terdapat keadilan dan kemakmuran untuk semua orang adalah sebuah pernyataan holistik, yang sadar bahwa diri kita berhubungan dengan orang banyak. Ada beberapa sistem untuk mencapai hal tersebut seperti komunisme, sosialisme, dan kapitalisme.

B. J. Gupta berpendapat: “Tidak semua jari berukuran sama. Komunisme adalah ketika Anda memotong jari yang lebih panjang supaya sama dengan jari yang pendek. Sosialisme adalah ketika Anda menarik paksa jari yang pendek supaya berukuran sama seperti jari yang panjang. Dan, kapitalisme adalah ketika Anda tidak berbuat apa-apa.”

Pengertian Karma Capitalism

Karma berarti “karya” – pekerjaan, perbuatan. Hukum Karma adalah Hukum Pekerjaan, Hukum Tindakan, Hukum Perbuatan. Hukum dalam pengertian “law” atau peraturan, bukan “punishment” atau hukuman. Persis sama seperti Hukum Aksi-Reaksi. Hukum Karma adalah Hukum Aksi-Reaksi, Hukum Sebab-Akibat. Ada aksi, ada reaksi – ada sebab, ada akibat.

Berikut ini beberapa pandangan dari buku Karma Yoga bagi Orang Modern, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru tentang pemahaman Karma Capitalism yaitu Kapitalisme yang Sadar akan Hukum atau Peraturan Karma. Kapitalisme yang tidak merampas dan menjarah hak orang lain untuk memperkaya diri sendiri.

Kapitalisme, sebagaimana kita mengenalnya saat ini, bisa melahirkan para dermawan yang selalu siap dengan uang receh untuk dilemparkan kepada mereka yang butuh. Proses pelemparannya bisa dipercantik, dengan membangun rumah sakit, sekolah, tempat ibadah, dan membiayai berbagai proyek. Tetapi, ia tidak pernah berusaha untuk mencabut akar kesenjangan. Kapitalisme membenarkan kesenjangan dengan dalil kebebasan dan fair-play, “Aku sudah bekerja keras untuk membangun kerajaanku. Janganlah menyalahkan aku jika disekitarku masih banyak orang miskin. Salah sendiri, kenapa mereka bermalas-malasan? Kenapa mereka tidak mau bekerja keras?” Seorang Karma-Capitalist menegurnya, “Berjujurlah dengan diri sendiri, apakah keuntungan yang kau raih itu tanpa menipu dan merampas hak orang lain? Apakah kau sudah cukup peduli terhadap lingkungan?”



Pemimpin dengan Semangat Pelayan

Hendaknya korporasi tidak bereaksi terhadap pasar saja, dan menjadi mesin pencetak uang. Setiap perusahaan dikelola oleh manusia, diperuntukkan bagi manusia, dan memiliki hubungan simbiotik (saling keterkaitan) dengan dunia manusia.

Menjalankan usaha demi uang saja bukanlah manajemen gaya Bhagavad Gita. Manajemen tidak dapat memikirkan uang atau keuntungan saja. Ia juga mesti memikirkan hal-hal lain yang terkait dengan tanggung jawabnya terhadap masyarakat. Hendaknya seorang eksekutif termotivasi untuk memajukan usahanya bukan sekedar untuk mencari keuntungan materi, tapi juga untuk berkontribusi terhadap pembangunan negara dan bangsa. Hendaknya ia berkarya demi kesejahteraan setiap pekerja yang terlibat dalam usahanya, dan demi kepentingan umum sehingga sebanyak mungkin orang dapat memperoleh manfaat dari usahanya.

Seorang eksekutif mesti tegas, disiplin, bisa bekerjasama diatas landasan yang tetap mengutamakan kedaulatan masing-masing pihak – namun tetap bersemangatkan seorang pelayan. Ia memimpin untuk melayani, bukan untuk menguasai, apalagi untuk memperbudak. Etos baru yang dibangun oleh seorang pemimpin sejati tidak berlandaskan pilih kasih, pilih tebang, kolusi, korupsi, ataupun nepotisme. Etos baru yang dibangunnya berlandaskan empati, saling kasih-mengasihi, dan saling membantu. “Gotong Royong”, sebagaimana dicetuskan oleh founding fathers bangsa kita adalah etos baru kepemimpinan yang dimaksud. Sungguh sangat disayangkan bila etos yang merupakan buah kearifan lokal ini terlupakan, dan kita malah meniru etos lama dari Barat yang justru mulai ditinggalkan oleh orang Barat sendiri.



Seorang Karma-Capilatist Sejati

Pendekatan sepotong-sepotong telah menghasilkan peradaban yang pincang. Ini yang terjadi selama beberapa abad terakhir hingga kuarto terakhir abad silam. Sejak tahun 1960-1970an Manusia Barat sudah mulai menoleh ke arah Timur untuk inspirasi, dan pendekatan holistik terhadap segala tantangan yang dihadapinya. Dari kesehatan dan hubungan keluarga hingga kesejahteraan dan keadilan – semua aspek kehidupan memang membutuhkan pendekatan secara holistik atau menyeluruh.

Berbicara tentang manajemen dan kepemimpinan – pendekatan holistik menjadi sama pentingnya. Para pemegang saham tidak bisa lagi memikirkan dirinya saja. Mereka juga mesti memikirkan kesejahteraan karyawan, kepuasan para konsumen dan/atau pengguna jasa, bahkan kepentingan masyarakat umum, dan kelestarian lingkungan hidup. Seorang Karma-Capitalist selalu memikirkan kebaikan konsumennya, ini yang membedakan dia dari kapitalis biasa. Dalam hal bermitra pun, seorang kapitalis biasa akan lebih mementingkan keuntungan dirinya. Keuntungan mitra usahanya menjadi urusan sekunder, bukan primer. Persis seperti perusahaan-perusahaan raksasa yang tidak segan menjarah hasil bumi negara-negera berkembang dan memiskinkan mereka.


INGAT!

Karma Capitalism, singkat kata adalah Kapitalisme penuh Kepedulian. Pelakunya, seorang Karma Capitalist, adalah orang yang peduli terhadap sesama dan terhadap lingkungan – terhadap dunia, terhadap planet bumi ini.


Simak video berikut dari Guruji Anand Krishna yang berjudul tentang "Jangan Menunda Berbagi dan Berkarya" agar kita dapat berkarya dengan semangat panembahan ya!

https://youtu.be/X9BKtgo4ofU