Cari

Memaknai Pemberian Sebuah Nama

Tradisi Pemberian Nama Baru

Ditahun enampuluhan, masih sering terdengar penggantian nama anak dengan nama baru. Hal ini disebabkan karena kabotan jeneng, artinya nama lamanya terlalu berat sehingga mengakibatkan anaknya sering sakit-sakitan dan diganti dengan nama baru yang lebih sesuai. Pada saat ini, hal semacam itu sudah merupakan hal yang amat langka. Pertama, kesulitan mengganti nama di Kantor Catatan Sipil dan yang kedua masyarakat banyak yang berpendapat atau berkomentar. Selain itu, adapula pemberian nama baru yang diberikan setelah seseorang memulai hidup baru (menikah) dengan nama marga dari keluarga tersebut.

Ada yang berpikir dan merasa biasa-biasa saja dengan nama pemberian orang tua mereka, tetapi ada pula yang senantiasa berupaya untuk memaknai nama pemberian tersebut. Tidak sekedar memahami maknanya, tetapi memaknai yang berarti berupaya untuk menjalankan hidupnya sesuai dengan makna dari nama tersebut. (Dikutip dari buku Javanese Wisdom, Butir-Butir Kebijakan Kuno bagi Manusia Modern, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2012)


Informasi dan Pembelian:

Jakarta 0878 8511 1979

Bali 0818350712

Jawa 0878 3161 5414

https://www.yogameditasi.com/shop

https://www.booksindonesia.com/



Pengaruh Nama terhadap Pemiliknya

Banyak artis yang setelah mengganti nama dan menjadi lebih terkenal. Bila sebuah nama dihayati oleh pemiliknya maka sang pemilik akan menuju menjadi seperti makna namanya. Ibarat sebuah mantra yang diulang-ulang maka semakin lama akan semakin powerfull. Mari kita menghormati nama kita dan memaknai nama kita dengan makna yang baik!


Pemaknaan Nama Baru Sebagai Pengingat Diri

Pemberian nama baru dalam tradisi Jawa tersebut bisa dikaitkan dengan ajaran Yang Mulia Dharmakirti Svarnadwippi, seorang Guru Besar di zaman Sriwijaya. Ajarannya tentang Boddhichitta, Kesadaran Murni dipelajari oleh Yang Mulia Atisha dari India dan disebarkan di Tibet. Dalai Lama sangat menghormati Guru Besar Dharmakirti dan Atisha. Ajaran Guru Besar Atisha yang terkenal di antaranya adalah setelah mencapai pemahaman tentang Kesadaran Murni, maka tiba saatnya untuk membuang conditioning lama, dan menggantinya dengan kesadaran baru. Memperbaiki conditioned mind dengan created mind yang harus diterapkan dalam keseharian, sehingga terjadi kelahiran kembali, kelahiran kesucian di dalam diri. Pemberian nama baru dimaksudkan sebagai pemerkuat created mind

"Apa Arti Sebuah Nama?" Demikian masyarakat meng-quote tulisan William Shakespeare. Penggantian nama atau pemberian nama baru oleh nenek moyang kita mempunyai landasan yang kuat. Nama yang dihayati betul-betul oleh pemiliknya, sebenarnya seperti sebuah afirmasi, sebuah mantra yang mujarab.


Mengubah Pola Kehidupan Lama dengan Pola Kehidupan Baru

Mind (gugusan pikiran dan perasaan) kita saat ini sudah terpola. Kelahiran membahagiakan, sedangkan kematian membuat sedih. Kenaikan pangkat membuat bahagia, sedangkan kehilangan pangkat menggelisahkan. Perilaku kita sudah terprogram, sehingga membuat kita gampang untuk diperbudak. Manusia harus menjalani proses deconditioning -- kebebasan penuh. Sedikitpun conditioning yang tersisa, bisa menjadi virus yang dapat menyebar dan mengkondisikan kembali mind Anda. Kita harus merubah perilaku dengan menciptakan mind yang baru, created mind. Demikian pandangan Anand Krishna dalam buku “Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2003.


Informasi dan Pembelian:

Jakarta 0878 8511 1979

Bali 0818350712

Jawa 0878 3161 5414

https://www.yogameditasi.com/shop

https://www.booksindonesia.com/


Sejak zaman dulu nama seorang Raja juga diberi gelar yang berbeda dengan nama kecilnya. Contohnya; Ken Arok yang diubah namanya menjadi Rajasawardhana. Rajasa bermakna Pengawal (Kerajaan), sedangkan kata Wardhana kita diingatkan tentang kasih Sri Krishna di Bukit Gowardhana. Rajasawardhana bermakna pengawal yang selalu bertambah rasa bhaktinya. Pada waktu itu banyak Raja yang bergelar Wardhana seperti Girindrawardhana, Wishnuwardhana, Jayawardhana. Pada masa kini seorang yang dinobatkan sebagai Raja masih diberi gelar baru. Gusti Herjuna Darpita setelah dinobatkan sebagai Raja diberi gelar Sri Sultan Hamengkubuwana ke-X. Diharapkan setelah menjadi Raja, visi dan wawasan Beliau harus luas selaras dengan namanya yang baru yaitu Hamengkubuwana yang artinya pengelola dunia.


Pengendalian Diri Seorang Pejalan Spiritual

Seorang sanyasi, sadhu, bhikshu, petapa, pejalan spiritual, atau apa pun sebutannya adalah seseorang pelaku spiritual purnawaktu. Dia sudah dapat mengendalikan dirinya dan melakukan pelayanan tanpa pamrih. Dalam buku “Sanyas Dharma, Sebuah Panduan bagi Penggiat dan Perkumpulan Spiritual”, Anand Krishna, Gramedia, 2012, Anand Krishna menyampaikan:

"Jadilah tuan bagi dirimu; Jadilah pelindung bagi dirimu sendiri; Kendalikan dirimu, sebagaimana seorang penunggang kuda mengendalikan kuda miliknya."

Beliau juga menyatakan dalam buku Sanyas Dharma tersebut bahwa "pengendalian diri, pengendalian pikiran, dan pengendalian perasaan, inilah bentuk pemberontakan seorang sanyasi." Ketika Anda memutuskan untuk mengendalikan diri Anda, pikiran Anda, hidup Anda, maka Anda sedang melakukan pemberontakan terhadap suatu sistem yang tidak senang dengan hal tersebut. Sistem yang korup namun sudah mapan tidak suka dengan kemandirian Anda. Sistem ini telah memperbudak Anda sejak berabad-abad, dan ingin memperbudak Anda hingga akhir zaman.


Simak video berikut dari Guruji Anand Krishna yang berjudul tentang "Manfaat Pengendalian Diri bagi Diri Sendiri" agar kita dapat mengendalikan diri dan menjadi tuan bagi diri sendiri ya!

https://youtu.be/bLifpIIdllM