Cari

Berkaryalah tanpa Pamrih!

Pengendalian Diri

Bagaimana mempraktikkan pengendalian diri, jika kita tidak berinteraksi dengan dunia? Lagi pula apakah kita dapat menghindari interaksi dengan dunia? Pengendalian diri menjadi berarti jika berada dalam keadaan di mana kita bisa lepas kendali. Keadaan seperti itu tercipta ketika kita berinteraksi dengan dunia. Lalu setelah penemuan jati diri ini, apa yang akan kita lakukan? Penemuan jati diri pun menjadi berarti jika kita memanfaatkannya dalam dunia ini – di tengah kegaduhan dan kebisingan dunia.

Menghindari keadaan yang tidak menunjang – menyangkut disiplin atau pengendalian diri. Diri dalam hal ini masih terkait dengan lapisan kesadaran jasmani kita. Inilah olah raga dalam arti sebenarnya. Membebaskan diri dari harapan, keterikatan, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan lapisan pikiran dan perasaan. Inilah olah cipta dan olah rasa. Kemudian, setelah mengolah diri, kita harus terjun ke dunia untuk berkarya tanpa pamrih dengan semangat menyembah. Pun, sebelumnya, sebelum turun ke dunia, kita sudah memahami kemampuan diri. Berkarya dengan semangat menyembah berarti ibadah. Inilah pemahaman Gita tentang ibadah.



Berkaryalah Sesuai Kodratmu!

Berarti, berkarya sesuai dengan kemampuan dan potensi dirimu. Kemampuan serta potensi diri itu dapat dikembangkan, diperbaiki, ditingkatkan, dipertajam, lalu berkaryalah! Bekerja dan berpikir bukanlah dua hal yang terpisah. Seorang pemikir juga bekerja dan berpikir pun merupakan suatu pekerjaan. Seorang pekerja juga mesti berpikir pula. Pekerjaan tidak dapat dipisahkan dari pikiran.

Janganlah engkau memasuki suatu bidang yang tidak sesuai dengan keahlian serta kemampuanmu! Setiap orang yang memperoleh gelar doktor, sesungguhnya dituntut untuk berfalsafah tentang ilmu yang ditekuninya. Jika urusanmu sekadar perut dan tabungan di bank, gelar itu harus kau lepaskan karena kau tidak layak bagi kehormatan seperti itu.



Belajarlah dari Alam!

Belajarlah dari alam - matahari, bulan, bintang, air, angin, api, tanah, adakah satu pun di antaranya yang merasa jenuh? Membersihkan, menyejukkan, membasahi, melarutkan, dan menghanyutkan – itulah tugas air. Sudah jutaan tahun ia melakukan hal itu. Apakah ia pernah mengeluh? Bagaimana pula dengan api? Angin dan tanah? Hasil bumi tidak ditelan sendiri oleh bumi. Segala apa yang dihasilkannya adalah untuk kita, untuk makhluk-makhluk hidup di dalamnya. Melihat kita bersuka cita, ia pun ikut menari riang. Apakah kau tidak menyaksikan tariannya? Seisi alam ini berkarya tanpa pamrih, dan mereka semua puas. Mereka semua bersukacita. Belajarlah dari mereka!

"Kekuatan-kekuatan alam, pemberian-pemberian alam seperti air hujan, cahaya, matahari, angin, bumi, dan lain sebagainya, diperuntukkan bagi manusia. Mereka memberi dan memberi. Sebaliknya, kita juga berkewajiban untuk menjaga kelestarian alam sekitar kita. (Dikutip dari buku The Gita of Management - Panduan Bagi Eksekutif Muda Berwawasan Modern oleh Anand Krishna)


Jika kita pun belajar untuk memberi tanpa mengharapkan imbalan, persis seperti yang dilakukan oleh alam, kita menjadi alami. Pengalaman kita menjadi sangat mirip dengan apa yang dialami oleh alam. Kita akan bersinergi dengan alam. Dan saat bersinergi itu, terjadilah ledakan yang dahsyat: Kita tercerahkan! Saat itu, kita menemukan jatidiri kita, Eh, ternyata…! Tiba-tiba kita tersadarkan, tercerahkan bahwa keberadaan kita di sini untuk menikmati, untuk merayakan, untuk menggunakan, dan meneruskannya kepada orang lain – bukan untuk memiliki. Alam terlalu besar sekaligus terlalu halus untuk dimiliki. Kebesarannya tak tergapai, kehalusannya tak tersentuh. Apakah kita dapat memiliki angin? Apakah kita dapat menyimpan sinar matahari? Apakah kita dapat mengurung sinar bulan di dalam kamar kita?


Berkarya Tanpa Pamrih

Sekarang pertanyaannya, kita bekerja untuk siapa? Untuk panca indra dan demi kenikmatannya? Atau untuk Sang Aku Sejati, untuk Dia yang bersemayam dalam diri setiap makhluk? Untuk mencapai kesempurnaan dalam persembahan kita, tingkatkan obyek penyembahan dan persembahan kita. Jika kita berkarya demi bangsa dan negara, apalagi demi dunia, demi kelestarian alam, kita telah berbuat apa yang semestinya dibuat oleh setiap makhluk hidup, oleh setiap orang. Kita telah menyatakan identitas kita. Kita telah memproklamasikan diri kita sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Semesta! Maka, sejak saat itu, Semesta akan melindungi kita. Kita menjadi tanggung jawabnya.


"Bukan hasil akhir, tetapi cara untuk melaksanakan tugasmu dengan baik! Berkaryalah tanpa pamrih!"

Slogan ini khas Krishna. Lewat slogannya ini, Ia membuktikan keyakinannya pada Hukum Alam yaitu kebaikan sudah pasti berbuah baik. Apapun yang kita lakukan, mari kita lakukan dengan semangat menyembah, kita lakukan sebagai wujud penyembahan kita kepada Dia Yang Maha Kasih dan Maha Agung!

Beberapa pelajaran yang dapat dipetik, antara lain:

  1. Hindari keadaan yang tidak menunjang kesadaran, tugas, serta kewajibanmu.

  2. Bebaskan dirimu dari harapan, keterikatan, keserakahan, ketamakan, dan lain sebagainya.

  3. Berkaryalah sesuai dengan sifat dan kemampuanmu, serta dengan semangat menyembah.


Simak video berikut dari Guruji Anand Krishna yang berjudul tentang "Kerja Keras, Kerja Cerdas sesuai Potensi Diri" agar kita dapat berkarya tanpa pamrih ya!

https://youtu.be/KNSvZos9nHk